![]() |
| Makanan Bergizi Gratis (MBG) kini mulai diujicobakan menggunakan konsep Prasmanan oleh Badan Gizi Nasional di beberapa daerah, Selasa, 20 Oktober 2026. (Foto: RRI/Syahrul) |
LIPUTAN INDONESIA - Uji coba penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan dinilai mempermudah guru membagikan makanan kepada siswa. Namun, penerapan sistem tersebut di banyak sekolah menjadi tantangan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan relawan terbatas.
Kepala SPPG Pelutan 1 sekaligus Koordinator Wilayah
Kecamatan Gebang, Dava Wisnu, mengatakan sistem baru diuji coba di satu
sekolah. Uji coba itu dilaksanakan di SDN Pelutan dengan 89 siswa sebagai
penerima manfaat.
Sebelumnya, makanan MBG dibagikan menggunakan wadah ompreng
yang telah diisi sesuai porsi masing-masing siswa. Dalam sistem prasmanan,
siswa mengambil makanan menggunakan wadah yang telah disediakan.
Menurut Dava, mekanisme tersebut membantu guru karena proses
pembagian makanan menjadi lebih praktis. Guru tidak perlu lagi mengumpulkan
siswa untuk menerima ompreng satu per satu seperti sebelumnya.
“Kalau komen dari guru, itu sangat membantu pendistribusian
kepada anak, yang tadinya guru mengundang anak-anak untuk pengambilan MBG.
Sekarang hanya disediakan satu kelas untuk prasmanan untuk mempermudah guru,”
ujar Dava dalam percakapan bersama Pro 3 RRI, Selasa, 20 Oktober 2026.
Pengambilan makanan berlangsung saat jam istirahat, mulai
pukul 09.00 hingga sekitar 09.40 WIB. Siswa kelas satu hingga tiga mendapat
porsi kecil, kemudian dilanjutkan siswa kelas empat hingga enam dengan porsi
besar.
“Kemarin pertama itu porsi kecil dari kelas 1 sampai kelas
3, kita kasih ke dalam ompreng. Lalu mereka menuju kelas masing-masing untuk makan,
anti lanjut porsi besar kelas 4, 5, 6,” katanya.
Meski mempermudah distribusi di sekolah, sistem prasmanan
membutuhkan persiapan tambahan dari pihak dapur. Dava menjelaskan, SPPG Pelutan
1 memiliki 47 relawan yang menangani penyediaan makanan.
Jumlah tersebut menjadi tantangan jika seluruh sekolah di
Kecamatan Gebang menerapkan sistem prasmanan pada hari yang sama. Karena itu,
uji coba dilakukan bertahap agar pengelola dapat menyesuaikan pelaksanaannya di
lapangan.
“Kendalanya dari relawan karena satu dapur SPPG itu
relawannya 47, kalau satu hari semua sekolah Kecamatan Gebang prasmanannya. Itu
sangat amat susah tapi karena kita uji-cobanya satu sekolah, jadi
sedikit-sedikit susah,” ucapnya.
Persiapan MBG dimulai dari penerimaan dan pemeriksaan bahan baku,
pencucian, serta penyiapan bahan sebelum proses memasak. Untuk uji coba ini,
kegiatan memasak dimulai pukul 06.00 WIB agar makanan siap disajikan pada pagi
hari.
Dava mengatakan makanan yang telah matang didinginkan
terlebih dahulu sebelum ditutup menggunakan plastik pembungkus dan dikirim ke
sekolah. Dava melihat dapurnya telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS),
sertifikat halal, dan sertifikasi pengelolaan pangan lainnya. (Shafira
Nursyifa) sumber nasional, Artikel dari RRI


