SUMBAWA, 5 JUNI 2026 — SMAN 1 Rhee di bawah kepemimpinan Herdiyanto, S.Pd., M.Si., membuktikan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan bermutu. Sekolah ini sukses mengintegrasikan kemajuan teknologi, kepatuhan regulasi, dan penguatan karakter spiritual melalui pelaksanaan dua agenda besar secara bersamaan: Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 dan Asesmen Akhir Semester (AAS).
Pada sektor penerimaan murid baru, SMAN 1 Rhee berkomitmen penuh menjalankan roda biokrasi sesuai Petunjuk Teknis (Juknis) SPMB 2026/2027. Pada gelombang pertama yang membuka jalur afirmasi dan mutasi, sekolah mencatat dinamika pendaftaran yang positif. Hingga hari terakhir, jalur mutasi tercatat nihil pendaftar. Namun, pos jalur afirmasi menunjukkan animo tinggi dengan menjaring 38 pendaftar dari total 44 kuota yang disediakan.
Tahun ini, SMAN 1 Rhee menargetkan total daya tampung sebanyak 144 murid baru. Kepala SMAN 1 Rhee, Herdiyanto, S.Pd., M.Si., menyatakan optimismenya terhadap pemenuhan kuota tersebut meski di tengah pembatasan wilayah zonasi.
"Kami optimis realisasi pendaftaran mampu mendekati kuota maksimal yang diberikan pemerintah. Walaupun sumber calon murid murni hanya mengandalkan wilayah Kecamatan Rhee dan tidak memungkinkan dari kecamatan lain, kami memilih untuk tetap tegak lurus dan patuh terhadap ketentuan Juknis yang berlaku," tegas Herdiyanto, Jumat (5/6).
Di saat yang bersamaan, atmosfer akademik di dalam lingkungan sekolah juga berjalan sangat ketat dan tertib melalui pelaksanaan Asesmen Akhir Semester. Pihak manajemen sekolah mewajibkan seluruh siswa tanpa terkecuali untuk mengikuti ujian ini.
Berbeda dengan metode konvensional, SMAN 1 Rhee menerapkan ujian berbasis paperless (tanpa kertas) dengan memanfaatkan teknologi digital secara penuh. Guna mendukung kelancaran transisi digital tersebut, sekolah telah memfasilitasi seluruh area ujian dengan infrastruktur jaringan internet yang kuat dan memadai.
Uniknya, di tengah modernisasi ujian berbasis digital ini, SMAN 1 Rhee tidak melupakan esensi pembentukan karakter. Sebelum siswa berhadapan dengan perangkat ujian, sekolah mewajibkan seluruh murid untuk menyambungkan diri dengan Sang Pencipta melalui kegiatan keagamaan. Siswa yang beragama Islam mengawali hari dengan ibadah sholat dhuha dan membaca Al-Qur'an, sementara siswa non-muslim melaksanakan ibadah pendalaman iman yang disesuaikan dengan keyakinan masing-masing.
"Ujian bukan sekadar angka di atas kertas atau layar, ini adalah momentum pembentukan mental. Melalui pengalaman spiritual yang rutin kami lakukan sebelum ujian, kami berharap para murid dapat menempuh asesmen ini dengan modal semangat yang tinggi, ketertiban, kejujuran, serta diberikan kelancaran," pungkas Herdiyanto.
Melalui integrasi dua kegiatan ini, SMAN 1 Rhee tidak hanya sukses bertransformasi menjadi sekolah modern yang ramah lingkungan melalui sistem paperless, namun juga menjadi laboratorium pembentukan generasi muda Sumbawa yang cerdas secara intelektual dan matang secara spiritual.
Penulis / Wartawan : Joni Irawan



