![]() |
| Ilustrasi |
PENTINGNYA DUKUNGAN KELUARGA BAGI MANTAN PENGGUNA NARKOBA PADA FASE AWAL PEMULIHAN
JAKARTA – Fase awal berhenti dari ketergantungan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (Napza) merupakan masa-masa paling krusial sekaligus rentan bagi seorang penyintas. Pada periode ini, stabilitas emosional dan perubahan perilaku yang drastis sering kali memicu kesalahpahaman di lingkungan keluarga terdekat.
Pakar rehabilitasi dan psikologi mengungkapkan bahwa seorang penyintas yang baru saja bersih dari zat adiktif kerap mengalami ketidakseimbangan hormon di dalam otak. Hal ini memicu gejala putus zat (sakau) secara psikologis, seperti perubahan suasana hati (mood swings) yang ekstrem, kecemasan tinggi, hingga gangguan pola tidur atau insomnia.
"Pada fase ini, mereka biasanya memiliki dorongan kuat untuk membuktikan kepada keluarga bahwa mereka telah berubah. Salah satunya dengan melakukan aktivitas fisik secara berlebihan di rumah, seperti bersih-bersih atau mencuci," ujar seorang praktisi konseling rehabilitasi.
Namun, tantangan terbesar justru muncul dari lingkungan rumah. Keluarga, terutama pasangan, yang masih menyimpan trauma masa lalu sering kali tanpa sadar menunjukkan sikap skeptis atau pengawasan yang berlebihan. Tindakan menuduh, menceramahi, atau mencurigai perubahan perilaku positif tersebut justru dapat meruntuhkan mental penyintas.
"Ketika usaha mereka untuk berubah justru direspons dengan kecurigaan atau dianggap tidak jujur, penyintas akan merasa tidak dihargai dan putus asa. Rasa frustrasi yang menumpuk ini menjadi pemicu (trigger) utama terjadinya kekambuhan (relapse)," lanjutnya.
Untuk mencegah hal tersebut, para ahli menyarankan agar pihak keluarga mengubah pola komunikasi. Mengurangi interogasi, menghentikan ceramah yang menghakimi, serta memberikan validasi dan apresiasi sekecil apa pun atas usaha penyintas adalah kunci utama. Hubungan yang harmonis dan ruang aman yang dibangun oleh pasangan terbukti menjadi obat pemulihan yang paling efektif di luar terapi medis. Demikian
Penulis Joni Irawan


