![]() |
| Screenshot dari IDNFinancial |
Produksi turun dan laba bersih ambles 60,9%. AMMN siapkan pengembangan tambang Elang.
membukukan laba bersih merosot 60,9% secara tahunan menjadi US$249 juta pada akhir Desember 2025, tertekan penjualan bersih yang ambles 30,7% menjadi US$1,8 miliar.
Menurut paparan Perseroan, penjualan bersih tersebut utamanya disumbang dari dua segmen produk utama, yaitu katoda tembaga dan emas murni.
Perseroan membukukan penjulan bersih sebesar US$806 juta dari katoda tembaga, yang mulai diproduksi pada kuartal II, kemudian US$454 juta dari emas murni, yang mulai diproduksi pada kuartal III.
Selain itu, AMMN juga mencetak US$587 juta dari penjualan konsentrat tembaga dan emas pada kuartal IV, setelah mengantongi izin ekspor sementara, dengan kuota 480.000 metrik ton kering yang berlaku hingga April 2026.
“Sekitar 70% penjualan bersih tahun 2025 dihasilkan pada Q4, didorong oleh stabilisasi operasi peleburan dan pemurnian serta penjualan konsentrat,” ujar manajemen dalam lembar paparan publik Perseroan, dikutip Kamis (26/3).
Arief Sidarto, Direktur Utama AMMN, mengakui bahwa tahun 2025 merupakan tahun yang menantang bagi operasional tambang Batu Hijau—yang telah melalui masa puncaknya di tahun 2024 lalu.
“Peralihan ke penambangan Fase 8—yang ditandai dengan kadar bijih yang lebih rendah—bersamaan dengan proses peningkatan kapasitas (ramp-up) smelter, menimbulkan tekanan operasional jangka pendek,” ujarnya.
Di sisi lain, meski produksi konsentrat ambles 41% dan kadar bijih lebih rendah, AMMN berhasil melampaui target produksi konsentrat tahun 2025, mencapai 446,6 metrik ton kering.
Namun, AMMN menatap positif kinerja tahun 2026, dengan target produksi konsentrat mencapai 900 ribu metrik ton kering—yang mengandung 485 juta pon tembaga dan 579 ribu ons emas.
Seiring dengan menurunnya fase produksi tambang Batu Hijau, AMMN kini mulai menyiapkan pengembangan proyek super giant selanjutnya, yaitu tambang Elang.
Tambang Elang memiliki total cadangan bijih 3,6 kali lipat lebih tinggi dibandingkan tambang Batu Hijau, mencapai 2,5 miliar ton, dengan total sumber daya mineral sebesar 1,3 miliar ton.
Studi kelayakan Elang tahun 2025 telah rampung, dan tambang baru ini nanti akan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada di Batu Hijau.
Menurut pemaparan Perseroan, bijih dari coarse ore stockpile Elang akan diangkut ke pabrik konsentrator Batu Hijau melalui sistem overland conveyor (”OLC”) sepanjang 54 km.
Di sisi lain, manajemen AMMN menegaskan bahwa meskipun studi kelayakan Elang tahun 2025 telah difinalisasi, revisi dan kajian optimisasi masih berlangsung. (ZH) Sumber Artikel IDNFINANCIAL


