Iklan

Wilayah Sulawesi dan Maluku dalam Zona Bahaya

Joni Irawan
Selasa, 09 Juni 2026 | 23:08 WIB Last Updated 2026-06-10T06:08:31Z

Wilayah Sulawesi dan Maluku dalam Zona Bahaya

Berdasarkan data pemetaan risiko bencana terbaru, gugusan kepulauan di Indonesia bagian timur mendominasi daftar wilayah rawan. Karakteristik geologis Sulawesi dan Maluku yang dikelilingi oleh banyak patahan aktif (patahan lokal) serta zona subduksi laut dalam menjadikannya target utama gelombang tinggi jika terjadi gempa berkekuatan besar.
Detail wilayah di Sulawesi dan Maluku yang masuk dalam daftar pemetaan potensi tsunami:
  • Provinsi Sulawesi Utara: Area pesisir Minahasa, Kepulauan Sangihe, dan Kepulauan Talaud yang berhadapan langsung dengan zona subduksi Laut Maluku.
  • Provinsi Sulawesi Tengah: Kawasan Teluk Tomini dan pesisir Banggai yang memiliki sejarah gempa pemicu tsunami lokal akibat pergeseran sesar aktif.
  • Provinsi Sulawesi Selatan & Tenggara: Pesisir Bulukumba serta wilayah Kepulauan Wakatobi yang berbatasan dengan laut dalam.
  • Provinsi Maluku: Wilayah Maluku Barat Daya, Kepulauan Tanimbar, dan Pulau Seram yang berada di atas zona subduksi Banda (Banda Detachment).
  • Provinsi Maluku Utara: Pesisir Halmahera dan Pulau Morotai yang rawan gempa lepas pantai intensitas tinggi.
Mengapa Sulawesi dan Maluku Sangat Rentan?
Kondisi geografis kedua pulau ini dikelilingi oleh palung laut terdalam di Indonesia dan pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia. Kecepatan rambat gelombang tsunami di wilayah perairan dalam Maluku dan Sulawesi tercatat bisa mencapai daratan dalam waktu kurang dari 10 hingga 15 menit setelah gempa bumi terjadi. Waktu respons yang sangat singkat ini menuntut sistem peringatan dini bekerja tanpa celah.
Langkah Antisipasi dan Mitigasi Pemerintah
Pemerintah daerah bersama BMKG terus mematangkan kesiapan infrastruktur penyelamatan untuk mengantisipasi skenario terburuk:
  1. Uji Coba Sirine: Melakukan pengecekan berkala pada alat peringatan dini (Early Warning System) di sepanjang pesisir pantai.
  2. Pembangunan Shelter: Mendirikan bangunan evakuasi vertikal di kawasan padat penduduk yang minim perbukitan.
  3. Rambu Evakuasi: Memperbanyak marka jalan penunjuk arah zona aman ketinggian di wilayah rawan.
  4. Edukasi Mandiri: Menggalakkan simulasi mandiri "Gempa 20 Detik" kepada masyarakat pesisir untuk langsung evakuasi tanpa menunggu sirine.
Masyarakat yang berada di 25 wilayah potensi tersebut diimbau untuk tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan selalu memantau informasi resmi melalui aplikasi jalur kebencanaan resmi milik pemerintah. Demikian
Wartawan Joni Irawan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Wilayah Sulawesi dan Maluku dalam Zona Bahaya

Trending Now

Iklan

iklan