Iklan

Joni Irawan ; Kebijakan "Tepat Sasaran" Yang Merepotkan

Joni Irawan
Rabu, 11 Maret 2026 | 21:59 WIB Last Updated 2026-03-12T04:59:21Z

JONI IRAWAN - pemilik Media Online LIPUTAN INDONESIA 

Sub Judul; Mencari gas LPG 3 kg untuk rumah tangga saat ini bak mencari harta karun di tengah labirin birokrasi.

Joni Irawan: Kelangkaan ini bukan sekadar masalah stok kosong, melainkan cerminan dari tantangan distribusi dan kebijakan yang sedang bertransisi.

Mengenai fenomena "gas melon" yang kian langka;

Ironi Subsidi yang "Menghilang"

Sangat ironis ketika barang yang disubsidi untuk rakyat kecil justru menjadi barang yang paling sulit didapat oleh mereka. Warga harus berkeliling dari satu warung ke warung lain, bahkan hingga lintas wilayah, hanya untuk menemukan tabung hijau ini. Banyak yang merasa hak mereka atas energi murah terhambat oleh rantai distribusi yang semakin panjang dan rumit.

Kebijakan "Tepat Sasaran" yang Merepotkan

Aturan baru yang mengharuskan pembelian hanya di pangkalan resmi (bukan pengecer) dengan syarat KTP/NIK mulai 1 Februari 2025 bertujuan baik agar subsidi tepat sasaran. Namun di lapangan, kebijakan ini justru, Memicu antrean panjang. Warga harus mengantre berjam-jam di pangkalan.

Menambah biaya Bagi lansia atau warga tanpa kendaraan, hilangnya pengecer dekat rumah berarti mereka harus keluar ongkos ojek untuk ke pangkalan yang jauh.

Kelangkaan Stok, Pembatasan kuota (seperti di Jakarta yang turun 1,6% pada 2025) membuat pasokan di pangkalan cepat habis diserbu warga.

Dampak Ekonomi yang Nyata Bagi ibu rumah tangga dan pelaku UMKM kuliner, ketiadaan gas berarti dapur berhenti mengepul. Beberapa warga bahkan terpaksa kembali menggunakan kayu bakar karena frustrasi mencari gas yang tak kunjung ada.

Di sisi lain, harga di tingkat pengecer yang masih memiliki stok sering kali melonjak jauh di atas HET, mencapai Rp35.000 hingga Rp50.000 per tabung.

Kesimpulannya, pemerintah perlu memastikan bahwa niat baik untuk merapikan data penerima subsidi tidak mengorbankan kemudahan akses masyarakat.

Tanpa pengawasan ketat dan ketersediaan stok yang konsisten di pangkalan, "gas melon" akan tetap menjadi barang mewah yang sulit diraih oleh mereka yang paling membutuhkannya. Demikian.

PENULIS; JONI IRAWAN

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Joni Irawan ; Kebijakan "Tepat Sasaran" Yang Merepotkan

Trending Now

Iklan

iklan